Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Abdul Halim Iskandar memastikan bahwa dia dan keluarganya adalah salah satu pencinta anggrek. Buktinya, dia telah membangunkan sang istri, Melati Erzaldi, sebuah kebun anggrek.
“Akhirnya saya juga menjadi pencinta anggrek. Saya sudah membuatkan green house anggrek untuk istri di Surabaya. Kami anggarkan dari anggaran keluarga,” kata Abdul Halim Iskandar saat membuka acara 2nd East Java Orchid Show (EJOS) di Balai Kota Among Tani Kota Batu pada Minggu (25/9/2022).
Kecintaan pada anggrek inilah yang membuat pria kelahiran 1962 itu bersama istri menyempatkan hadir ke acara bertajuk Batu Internasional Orchid Show 2022. “Acara ini sebetulnya mendadak, tetapi karena kami pencinta anggrek, maka kami hadir,” katanya yang disambut tepuk tangan para undangan.
Terlebih, kata Abdul Halim, saat ini namanya sudah menjadi nama salah satu varietas anggrek yaitu Dendrobium Abdul Halim Iskandar. Nama ini sudah didaftarkan di Royal Holticultural Society (RHS) di London oleh PT Java Indo Arjuna yang sekaligus pemilik Taman Arjuno.
“Varietas yang menggunakan nama saya ini juga pernah di lombakan dan ternyata juara, karena memang pesertanya hanya satu,” kata dia yang dijawab gelak tawa undangan.
Jawaban Menteri Desa soal Desa Devisa
Pada kesempatan tersebut menteri desa menjawab tagihan janji yang dilayangkan oleh Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Jawa Timur, Fathul Yasin, soal Desa Devisa.
Menurutnya, janji tersebut sedang digodok dan akan direalisasikan pada tahun 2023 mendatang.
“Janji itu saya ingat, saya katakan pada Juli 2022 kemaren, tapi biasanya realisasinya tidak mungkin tahun itu juga. Karena kami sudah siapkan, dan akan diwujudkan pada 2023 nanti,” katanya.
Namun demikian, berbeda dengan harapan Ketua PAI Jatim, Desa Wisata tidak akan diwujudkan di Kota Batu. Pasalnya, desa-desa di Kota Batu sudah menjadi desa mandiri, sementara Desa Devisa akan ditargetkan di desa-desa yang tertinggal.
Hal ini karena sudah diatur di dalam Perpres 59 tahun 2009, bahwa pengunaan dana desa untuk mewujudkan desa tanpa kemiskinan dan desa tanpa kelaparan. “Ini nanti untuk pertumbuhan desa yang jumlahnya sekitar 74.692 desa di Indonesia. Jadi mohon maaf Desa Devisa tidak bisa diwujudkan di Kota Batu,” kata dia.(her/amr)
