Geliat pencinta anggrek di Jawa Timur selama dua dekade terakhir terbilang aktif dan dominan secara nasional. Walaupun tingkat keaktifan ini belum sepenuhnya merata ke seluruh wilayah kota/kabupaten di Jawa Timur. Surabaya dan Malang masih menjadi leader untuk anggrek.
Namun demikian, berbagai upaya untuk meratakan geliat penganggrek ke berbagai kebun yang ada di wilayah Jawa Timur terus dilakukan, salah satunya melalui East Java Orchid Show (EJOS). Gelaran pameran akbar yang melibatkan negara-negara asing ini sukses digelar pada tahun 2001 lalu di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur.
“Sepanjang sejarah kebun raya di Indonesia, EJOS ke-1 tahun 2001 itu yang paling banyak mendatangkan pengunjung, hingga ratusan ribu,” kata Novianto, kepala departemen pengembangan agribisnis anggrek DPP PAI pusat, saat diwawancarai.
Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa Novi itu menjelaskan latar sejarah dan pentingnya EJOS. Mula-mula, acara itu diinisiasi oleh Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) cabang Malang dan Surabaya. Dua cabang ini memang rutin mengadakan pameran tetapi parsial.
“Dari itu kami punya ide acara anggrek bersama, dan juga diikuti orang dari luar negeri. Maka pada tahun 2000 muncul ide EJOS. Setahun kemudian berhasil direalisasikan,” kata pria asli Batu itu.
Acara yang digelar pada 25-31 Mei 2001 itu turut diikuti oleh 6 negara, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Filipina, dan Indonesia. Dan, ternyata dampak acara yang di-support LIPI itu luar biasa. Iklim penganggrek di Jawa Timur bangkit secara signifikan. Banyak orang tertarik dengan anggrek.
“Kampus yang dulunya meminggirkan anggrek, setelah EJOS mereka mulai riset-riset soal anggrek. Bahkan mendekati langsung pada PAI soal riset anggrek,” kata pemilik kebun anggrek Soerjanto Orchids itu.
Selain itu dari sisi ekonomi juga signifikan, karena menjadi gerakan baru meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Inilah yang membuat para dinas terkait di kabupaten dan kota Jatim tergerak untuk men-support pertumbuhan anggrek di Jawa Timur.
Spirit EJOS ke-2
Lalu berselang 20 tahun kemudian, para cabang PAI di Jawa Timur mulai menurun aktivitasnya. Sehingga perlu didorong kembali dan disemarakkan melalui EJOS ke-2 yang diselenggarakan di Kota Batu pada 24 September hingga 2 Oktober 2022. Acara ini dihadiri oleh tiga asosiasi anggrek dari 3 negara, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand.
“Para asosiasi anggrek negara tetangga ini ingin melihat langsung anggrek Indonesia. Karena selama ini mereka hanya melihat anggrek kita hanya melalui media sosial,” katanya.
Selain itu, EJOS ke-2 untuk mendorong pemerintah membuka keran ekspor anggrek Indonesia. Karena potensi anggrek Indonesia sangat luar biasa, tetapi selama ini regulasi membuat ekspor itu sulit dilakukan, terutama regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
“Biasanya yang mempersulit ekspor itu negara tujuan, tetapi kalau anggrek justru yang mempersulit negara kita sendiri,” katanya.
Bahkan ironisnya, keran impor justru dibuka selebar-lebarnya ke Indonesia. Maka saat ini, menurutnya, 50 persen lebih anggrek yang ada di pasaran bukan anggrek asal Indonesia, melainkan anggrek impor.
“Kalau kita ke Splindid (pasar bunga) dan ke Kota Batu, rata-rata anggrek yang dijual hasil impor dari Thailand dan Taiwan,” kata dia.
Nah, melalui EJOS ke-2, dia berharap pemerintah mulai menyadari potensi dan mengubah kebijakan soal anggrek. Menurutnya tak mungkin anggrek yang dilindungi dijual oleh penganggrek Indonesia. “Kita ingin produk-produk anggrek Indonesia menjadi produk unggul untuk ekspor Indonesia ke luar negeri,” pungkasnya.(her/amr)
